Home Slider
Blogs

Blogs

View More
  • 0 Comments
    48 Views
    Di tengah gemuruh dunia modern yang serbacepat dan padat informasi, kita sering lupa akan kekuatan yang terkandung dalam tindakan sederhana: membaca. Membaca adalah jendela pengetahuan, sebuah pintu masuk ke dunia yang luas dan beragam. Sayangnya, semakin banyak orang terjebak dalam gelombang informasi sekilas, dan tak lagi mengindahkan (atau merasa perlu masuk pada) kedalaman yang bisa ditemukan melalui hal yang seharusnya sederhana ini. Sebelum tahun 1990-an, teknologi informasi masih serbaterbatas, baik di dunia maupun di Indonesia. Buku menjadi kebutuhan. Tidak ada pilihan selain membaca buku untuk melahap sebanyak mungkin pengetahuan, dan bertemu sesering mungkin tokoh dan pemikir hebat. Demikian yang dilakukan para pendiri bangsa kita. Sebut saja, di antaranya Tjokroaminoto, Sukarno, Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, Kartini, dan banyak lagi. Mereka membaca seperti bernapas. Dan mereka tidak berhenti pada membaca, tetapi menghidupkannya dalam diskusi-diskusi, baik secara lisan maupun tertulis.  Disadari atau tidak, pada dasarnya kita semua juga masih pembaca yang getol kok. Dengan akses informasi yang semakin mudah, semua bisa menjadi pembaca buku, surat kabar, artikel, iklan di pamflet dan papan di jalan, bahkan kita rajin sekali membaca pesan singkat yang lewat di linimasa media sosial. Pertanyaannya kemudian: Apakah kita sudah benar-benar memahami arti yang terkandung dalam kata-kata yang kita baca? Apakah kita sudah membaca dengan saksama, sebelum berkomentar atau menyebarkannya, atau bahkan terpancing emosi karenanya? Ataukah kita masih lebih sering terlena dengan kata-kata yang tersurat saja, tanpa menyadari adanya makna yang tersirat.  Merayakan usia 28 tahun, KPG mengusung tema: "Kembali Belajar Membaca". Kampanye literasi ini hadir dengan kesadaran bahwa setelah bertemu di buku dan menjalin banyak jalan menuju buku, ternyata ada hal mendasar yang perlu diasah agar kita dan buku bisa terus hidup dan saling menghidupi, yakni belajar membaca. Tema ini bukan sekadar mengenalkan orang pada buku-buku bermutu, melainkan juga menekankan pentingnya membaca dengan penuh pengertian. Melalui program ini, kita akan mengarungi perjalanan menuju pemahaman lebih mendalam tentang kekuatan membaca dan kehausan akan ilmu pengetahuan, seperti yang diungkapkan oleh filsuf terkenal dari Yunani, Sokrates: All I know is that I know nothing.
  • 0 Comments
    17 Views
    Senin, 27 Mei 2024; 15:00-17:30 WIB FIB UGM, Gedung Soegondo, Lt 7, Ruang 707, Jl. Sosiohumaniora, Bulaksumur Yogyakarta - Penerbit KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) bekerja sama dengan Palmerah, Yuk! dan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar perhelatan budaya bertajuk “Merayakan Puisi Penyair Indonesia-Chile: Bincang/Baca/Petik Gitar” di FIB UGM. Perhelatan ini menyambut terbitnya Para la Vida: Antologi Puisi Indonesia-Chile, antologi puisi pertama yang mengolaborasikan karya-karya penyair Indonesia dan luar negeri. Antologi puisi ini lahir dari program residensi yang dilaksanakan oleh dua sastrawan FX Rudy Gunawan dan Afnan Malay di Chile, Amerika Selatan, akhir 2022. Program residensi tersebut didukung oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan. “Antologi puisi penyair dua negara ini merupakan sebuah langkah maju di dunia kebudayaan. Mungkin baru untuk pertama kalinya sebuah program residensi menghasilkan karya kolaborasi,” ujar Hilmar Farid, Dirjenbud. Bagi Rudy Gunawan, program residensi tersebut meninggalkan kesan bangga yang luar biasa. Tidak semua sastrawan memiliki kesempatan untuk mengenal lebih jauh budaya dan negara yang sangat menghargai puisi seperti Chile. “Saya seperti menghirup udara yang penuh puisi, begitu jernih dan menyegarkan sebagaimana puisi-puisi Gabriela Mistral, penyair Chile peraih nobel sastra itu,” ucap Rudy Gunawan. Rudy dan Afnan menceritakan, sastra dan puisi mendapat tempat terhormat dalam kehidupan masyarakat di Chile. Ada begitu banyak museum sastra, toko buku kecil dan kafe buku, hingga beragam program sastra yang dapat dinikmati warga Kota Santiago dan kota-kota lainnya di Chile. Rudy dan Afnan kemudian dipertemukan dengan para penyair Chile atas dukungan Muhammad Anshor, Duta Besar Indonesia di Chile, yang menyambut baik dua sastrawan itu. “Buku antologi puisi ini menjanjikan kepada pembaca suatu perjalanan penjelajahan dari relung kontemplasi kebatinan dari setiap penyair kedua negara yang berpartisipasi, mengenai berbagai topik yang relevan di masyarakatnya masing-masing. Sejumlah puisi menghadirkan suasana batin yang gelap, namun semuanya mengisyaratkan optimisme untuk kehidupan ke depan,” ujar Muhammad Ansor. Lebih jauh Rudy mengatakan, “Para penyair Chile penuh penghargaan pada sesama manusia, khususnya sesama penyair dari mana pun berasal.” Dalam kesempatan itulah proyek kolaborasi membukukan antologi puisi penyair dua negara ini tercetus. Rudy dan Afnan mengundang para penyair Indonesia seperti Nezar Patria, Dorothea Rosa Herliany, Ramses Simatupang, Achmad Munjid, dan Ulfatin Ch dalam kolaborasi ini. Selain pembacaan puisi oleh para penyair Para la Vida, acara ini diisi dengan bincang-bincang bersama Rudy Gunawan, Ramayda Akmal, Annecy NM, dan Ni Made Purnamasari sebagai moderator. Acara juga dimeriahkan oleh Jubing Kristianto yang akan merespons salah satu puisi yang bercerita tentang Victor Jara serta komposisi tentang Chile. *** Dokumentasi oleh FIB UGM/2024.
News
NEWS