Home Slider
Blogs

Blogs

View More
  • 0 Comments
    21 Views
    JAKARTA, 14 Juni 2024 – Petualangan Mi, Ma, dan Mo dari novel Kita Pergi Hari Ini (KPHI) berlanjut. Mari Pergi Lebih Jauh (MPLJ) bersama Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie dalam peluncuran bukunya bersama Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) di Gramedia Matraman pada Jumat, 14 Juni 2024 pukul 16.00 WIB.  Bukunya sendiri direncanakan terbit pada 3 Juli 2024. Namun peluncuran bukunya digelar lebih awal untuk memberi kesempatan kepada para penggemar berat KPHI untuk segera melepas rindu dan mengetahui kelanjutan petualangan Mo bersaudara.  Pada novel sebelumnya, kisah tiga bocah ini ditutup dengan nuansa kelabu yakni hilangnya Fifi. Namun anak-anak keluarga Mo dan Fufu–saudara kembar Fifi–tidak percaya bahwa Fifi sudah tiada, atau seperti yang dikatakan oleh Ibu Mo dan Ibu Tetangga Sebelah kalau Fifi hanyalah bayangan cermin dari Fufu. Dibantu tokoh baru, Petronella, anak yang benar-benar pintar, tiga bersaudara Mo dan Fifi pergi lebih jauh, lebih lama, dan lebih menantang. Dalam peluncuran buku ini, Ziggy untuk pertama kali akan memamerkan 24 lukisan cat airnya yang termuat dalam buku Mari Pergi Lebih Jauh. Penggemar dapat menikmati keindahan visual karya Ziggy dan mendapatkan pemahaman lebih dalam tentang cerita di baliknya.  Diskusi buku juga ditampilkan lebih intim dengan mengambil tempat di sudut toko buku Gramedia Matraman, berlatarkan rak-rak buku, alih-alih memanfaatkan ruang serbaguna di lantai 2 dengan penulis berada di atas panggung.  Dipandu Teguh Afandi, moderator sekaligus editor Mari Pergi Lebih Jauh, obrolan tentang buku baru Ziggy ini akan membawa peserta menjelajahi proses kreatif sampai mengintip ke lemari bacaan pingu–julukan Ziggy dari penggemarnya. Acara ditutup dengan foto bareng dan sesi tanda tangan.  Pembaca yang hadir pada peluncuran buku juga bisa langsung memeluk sekuel KPHI ini. Karena bukunya sudah tersedia, baik bagi yang melakukan prapesan melalui WhatsApp ke Gramedia Matraman maupun bagi peserta yang baru mau bertransaksi di lokasi acara.  Pembelian buku MPLJ juga disertai bonus menarik, berupa stiker dan pembatas buku penguin. Pembatas buku penguin ini terbilang spesial karena merupakan hasil kerja kolektif yang digagas Tria Novanda, seniman crochet yang bisa kamu temui lewat akun Instagram @elforiacrochet dan komunitas rajut di Purwokerto yang terdiri dari anak muda hingga oma-oma pensiunan buruh.  Selain dengan menghadiri peluncuran bukunya, novel Mari Pergi Lebih Jauh bisa dipesan melalui Gramedia.com dan toko resmi Gramedia di lokapasar, seperti Shopee, Tokopedia, Lazada, dan Blibli. Bonus yang ditawarkan sama plus bukunya sudah ditandatangi oleh Ziggy. Silakan pesan melalui tautan ini: penerbitkpg.qrd.by/po-mplj. *** Tentang Penulis Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie lahir di Bandar Lampung tahun 1993. Karya-karyanya telah menerima Penghargaan Sastra Badan Bahasa, juga nominasi Kusala Sastra Khatulistiwa dan Sastra Pilihan Majalah Tempo. Temui Ziggy di Twitter @monamiCROISSANT dan Instagram @ditanahlada. Karyanya yang diterbitkan bersama KPG, meliputi Tiga dalam Kayu (2020), Pulau Batu di Samudra Buatan (2023), dan terbaru Mari Pergi Lebih Jauh (Juli 2024), menyusul cetak ulang Kita Pergi Hari Ini, Di Tanah Lada, dan dua lagi novel yang ditulis Ziggy pada masa remajanya.    Tentang Penerbit KPG Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) adalah salah satu penerbit di bawah payung Kelompok Kompas Gramedia yang berdiri sejak 1 Juni 1996 atas prakarsa Parakitri T. Simbolon. KPG memiliki tradisi memadukan bisnis dan kegiatan sosial karena meyakini bahwa profit dalam bisnis seyogianya diperoleh dari mengembangkan potensi sekeliling. Misi utamanya adalah meningkatkan melek sains dan keterbukaan pikiran pembaca dengan menerbitkan buku-buku sains dan humaniora, baik lokal maupun terjemahan, fiksi maupun nonfiksi. Selain menerbitkan buku, KPG telah melebarkan sayap menjadi penerbit konten.  Pada ulang tahunnya yang ke-28, KPG mengusung tema #KembaliBelajarMembaca. Sebuah kampanye literasi yang mengajak orang untuk membaca dengan penuh pengertian dan kenikmatan.  Berdiri pada tahun 1970, PT Gramedia Asri Media atau Gramedia adalah salah satu Strategic Business Unit (SBU) Kompas Gramedia (KG) yang bergerak di bisnis retail dengan produk utama buku dan alat-alat tulis. Hal ini berkaitan dengan misi untuk ikut berperan dalam usaha mencerdaskan dan mencerahkan kehidupan bangsa melalui penyebaran informasi dan pengetahuan. Gramedia memiliki 7 lembaga penerbit yang menghadirkan sumber bacaan yang bermanfaat, juga layanan edukasi berbasis digital dan konvensional.  Hingga 2024, Gramedia telah membuka 126 stores yang tersebar di 65 Kabupaten/Kota di 34 Provinsi di seluruh Indonesia yang juga terintegrasi dengan layanan digitalnya seperti Gramedia.com, Gramedia Digital dan E-Perpus. Saat ini, Gramedia juga melakukan pengembangan usaha dengan mendirikan Globalitas Karya Utama (GLKU) yang bergerak di bidang impor dan distributor melalui penyediaan produk-produk yang market-oriented, kreatif, dan inovatif seperti stationery, produk multimedia, fancy, dan lainnya. Gramedia juga menghadirkan private label, seperti Estudee, Eversac dan Piknik.  Pada bidang intellectual property, Gramedia menghadirkan Rekata, film unggulannya adalah Penyalin Cahaya dengan perolehan 12 Piala Citra.
  • 0 Comments
    55 Views
    “To the love you lost in the winds of time and comes back lifetimes later, To the strings of chances and fates that tie us together.”  JAKARTA - Apakah kamu percaya ada takdir yang telah disuratkan atau kehidupan setelah kematian?  Helena Natasha suatu kali menemukan lukisan di media sosial yang mirip dengannya. Bahkan pose anak perempuan memangku kucing itu adalah gaya berfoto impian penulis kelahiran 1993 ini. Dia pikir kemiripan itu hanya perasaan sepihak, tetapi setelah mencoba bertanya ke keluarga dan teman dekat, pendapatnya sama. Mereka mengusulkan untuk ikut pembacaan tarot. Tiga pembaca tarot berbeda mengatakan kemungkinan besar Natasha memang reinkarnasi dari anak perempuan di lukisan tersebut.  Tentu saja, Natasha tidak lantas percaya. Namun pertemuan dengan lukisan tersebut membekas dan menginspirasinya menulis sajak-sajak reflektif dalam buku terbarunya, Chances, Spelled in Poetry.  Diterbitkan sebagai buku ketiga dari seri puisinya, Chances, Spelled in Poetry sebenarnya merupakan buku keempat Helena Natasha, setelah A Starry Journal (2018) berkolaborasi dengan ilustrator Eleonore Grace, Love, Spelled in Poetry (2019), dan Dreams, Spelled in Poetry (2021). Semua bukunya ditulis dalam bahasa Inggris dan dirilis bersama Penerbit POP, lini penerbitan buku remaja milik Kepustakaan Populer Gramedia (KPG).  Dari segi cerita, buku bersampul hijau ini menyeret pembaca pada arus kehidupan yang lebih gelap dibandingkan buku pertama dan keduanya. Pada Love, Spelled in Poetry, Natasha menggambarkan kisah cinta pertama yang polos dan serba-menawan bak negeri dongeng. Di Dreams, Spelled in Poetry, ia mulai terjaga dari mimpi indah. “Mengejar mimpi dan cinta ternyata tidak seromantis itu,” ujar alumni sekolah bisnis Prasetiya Mulya itu saat Bincang Buku di Instagram Live bersama Penerbit POP,  23 Mei lalu. Ia jadi berpikir bagaimana jika kehidupannya dipenuhi kegagalan, akankah ada kesempatan kedua? Menggunakan metafora reinkarnasi dan transformasi, Helena Natasha menjawabnya dalam Chances, Spelled in Poetry.  Selain dari segi cerita, buku puisi yang dikemas hardcover ini menjadi berbeda berkat sentuhan artistik dari Kurniawan Ho Wijaya, seorang seniman multidisiplin yang sudah malang melintang di industri pernikahan. Sejak pertama menatap buku ini, pembaca harus siap-siap tersedot dalam pusaran roda kehidupan, yang kadang melambungkan, kadang menjatuhkan. Sebuah perjalanan mencari makna yang entah di mana ujungnya.  Chances, Spelled in Poetry terbit 29 Mei 2024, tiga tahun setelah buku terakhir Helena. Mari rayakan di Perpustakaan Baca di Tebet pada Sabtu, 1 Juni 2024 pukul 15.00 WIB. Peluncuran buku akan dimeriahkan oleh penampilan spesial dari dua sejawat penyair, Firnita dan Lizzie Chan. Kita juga bisa mendengarkan kisah lengkap proses kreatif Natasha menulis buku ini, mengobrol santai dengan penulis dan para penampil, foto bareng, dan mengikuti sesi tanda tangan.  Dapatkan juga hadiah terbatas dan harga khusus untuk pembelian buku di lokasi acara. Pendaftaran melalui penerbitkpg.qrd.by/launchances.  *** Lampiran:  Tonton IG LIVE Bincang Buku Sebelum Terbit (BiBit) Chances, Spelled in Poetry di kanal YouTube Penerbit KPG  Foto buku oleh Fitriana Hadi/Dok. KPG di sini.
  • 0 Comments
    61 Views
    JAKARTA - KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) bekerja sama dengan Museum Kebangkitan Nasional dan Indonesia Heritage Agency mengadakan peluncuran novel Romansa STOVIA di Museum Kebangkitan Nasional. Mengambil latar awal abad ke-20, Romansa STOVIA menceritakan perjalanan empat sahabat yang sedang menempuh pendidikan di sekolah kedokteran pertama di Hindia Belanda. Ada momen-momen di mana mereka harus memilih antara cinta, sahabat, keluarga, dan cita-cita menjadi dokter suatu hari nanti. Penulis Romansa STOVIA, Sania Rasyid mengatakan bahwa melalui novel ini dia hendak memperkenalkan satu babak penting dalam sejarah Indonesia dengan cara yang asyik dan dapat diterima generasi hari ini. “Indonesia dibangun melalui pendidikan. Saya punya perhatian bahwa pendidikan tetap merupakan hal paling penting untuk hari ini dan ke depannya. Pendidikan yang baik bisa membangun jiwa inklusivitas kita sebagai manusia,” ujar penulis kelahiran Jakarta, 21 September 1980 itu. Selain bincang-bincang bersama penulis, peluncuran Romansa STOVIA juga dimeriahkan oleh penampilan Keroncong Gema Stovia Nusantara dan Fakultas Kedokteran UI, pembacaan dramatikal oleh Teater Anak Nusantara, tur museum bersama penulis dan ahli sejarah STOVIA, dan acara-acara menarik lainnya. Peserta juga berkesempatan mendapatkan door prize untuk Best Costume. Peluncuran Romansa STOVIA didukung oleh Gema STOVIA Nusantara, dan Keroncong Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
  • 1 Comment
    148 Views
    Di tengah gemuruh dunia modern yang serbacepat dan padat informasi, kita sering lupa akan kekuatan yang terkandung dalam tindakan sederhana: membaca. Membaca adalah jendela pengetahuan, sebuah pintu masuk ke dunia yang luas dan beragam. Sayangnya, semakin banyak orang terjebak dalam gelombang informasi sekilas, dan tak lagi mengindahkan (atau merasa perlu masuk pada) kedalaman yang bisa ditemukan melalui hal yang seharusnya sederhana ini. Sebelum tahun 1990-an, teknologi informasi masih serbaterbatas, baik di dunia maupun di Indonesia. Buku menjadi kebutuhan. Tidak ada pilihan selain membaca buku untuk melahap sebanyak mungkin pengetahuan, dan bertemu sesering mungkin tokoh dan pemikir hebat. Demikian yang dilakukan para pendiri bangsa kita. Sebut saja, di antaranya Tjokroaminoto, Sukarno, Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, Kartini, dan banyak lagi. Mereka membaca seperti bernapas. Dan mereka tidak berhenti pada membaca, tetapi menghidupkannya dalam diskusi-diskusi, baik secara lisan maupun tertulis.  Disadari atau tidak, pada dasarnya kita semua juga masih pembaca yang getol kok. Dengan akses informasi yang semakin mudah, semua bisa menjadi pembaca buku, surat kabar, artikel, iklan di pamflet dan papan di jalan, bahkan kita rajin sekali membaca pesan singkat yang lewat di linimasa media sosial. Pertanyaannya kemudian: Apakah kita sudah benar-benar memahami arti yang terkandung dalam kata-kata yang kita baca? Apakah kita sudah membaca dengan saksama, sebelum berkomentar atau menyebarkannya, atau bahkan terpancing emosi karenanya? Ataukah kita masih lebih sering terlena dengan kata-kata yang tersurat saja, tanpa menyadari adanya makna yang tersirat.  Merayakan usia 28 tahun, KPG mengusung tema: "Kembali Belajar Membaca". Kampanye literasi ini hadir dengan kesadaran bahwa setelah bertemu di buku dan menjalin banyak jalan menuju buku, ternyata ada hal mendasar yang perlu diasah agar kita dan buku bisa terus hidup dan saling menghidupi, yakni belajar membaca. Tema ini bukan sekadar mengenalkan orang pada buku-buku bermutu, melainkan juga menekankan pentingnya membaca dengan penuh pengertian. Melalui program ini, kita akan mengarungi perjalanan menuju pemahaman lebih mendalam tentang kekuatan membaca dan kehausan akan ilmu pengetahuan, seperti yang diungkapkan oleh filsuf terkenal dari Yunani, Sokrates: All I know is that I know nothing.
News
NEWS