SiapaBilang-October 5 2011
Ratusan warga Namibia menyambut kepulangan 20 tengkorak nenek moyang mereka yang dibawa ke Jerman lebih dari satu abad lalu.
Dengan menggunakan pakaian adat, para pria menunggang kuda dan meneriakkan pekik perang sementara para wanita menangis tersedu-sedu saat pesawat yang membawa tengkorak mendarat di ibukota Windhoek, ketika matahari terbit.
Tengkorak ini diyakini terdiri dari 11 orang dari etnis Nama dan sembilan dari suku Herero, yang tewas saat menentang kolonialisme Jerman lebih dari 100 tahun lalu.
Mereka merupakan bagian dari ratusan orang yang mati kelaparan setelah dikumpulkan dalam sebuah kamp.
Tengkorak mereka kemudian dibawa oleh ilmuwan Jerman sebagai bagian dari eksperimen.
Kini tengkorak itu kembali pulang dan disambut sebagai pahlawan.
Perdana Menteri Nahas Angula mengatakan babak tragis dari sejarah telah ditutup.
”Tengkorak ini menjadi saksi kekejaman kolonialisme Jerman terhadap bangsa kita,” kata PM Angula.
”Bangsa Namibia menerima tengkorak ini sebagai simbol penutupan dari sebuah babak tragis.”
Tuntutan ganti rugi
Tetapi banyak warga Namibia tidak setuju dan mendesak Jerman membayar ganti rugi.
Sejumlah spanduk bertuliskan ”ganti rugi sekarang!’ terbentang saat upacara berlangsung.
”Kami percaya pemerintah Namibia akan meminta ganti rugi dari Jerman dan keadilan akan ditegakkan,” kata kepala suku Nama, David Frederick, yang tengkorak kakeknya termasuk yang dibawa ke Jerman.
Jerman sebelumnya telah menyatakan penyesalan tetapi berulangkali menolak untuk membayar ganti rugi dengan alasan telah membantu pembangunan di Namibia.
“Tengkorak ini menjadi saksi kekejaman kolonialisme Jerman terhadap bangsa kita.” Nahas Angula
Tengkorak-tengkorak ini sendiri dikembalikan ke Namibia setelah melalui proses negosiasi yang sengit selama bertahun-tahun.
Kolonialisme Jerman di Namibia berlangsung pada tahun 1880-an. Tahun 1904 suku Herero, yang memiliki 200 etnis bangkit melawan pemerintahan kolonial Jerman, menewaskan lebih dari 120 orang.
Perlawanan ini dibalas dengan kejam oleh Jerman. Jenderal Lothar von Trotha menandatangani surat perintah pemusnahan suku Herero.
Diperkirakan 65.000 orang suku Herero tewas karena dibuang ke gurun, hanya 15.000 yang selamat. Dan diyakini ada 10.000 orang dari suku Nama yang juga turut menjadi korban.
Pada tahun 1985, PBB mengklasifikasikan peristiwa ini sebagai pemusnahan suku Herero dan Nama serta upaya genosida di awal abad ke 20. Baru pada tahun 2004 Jerman menyatakan penyesalan atas peristiwa tersebut.
Saat ini masih banyak tengkorak Namibia yang tersimpan di Jerman.
Sumber :www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/











