SiapaBilang-September 02 2010
1X24 Jam, Bozem Morokrembangan Sudah Bersih dari Sampah
SURABAYA – Ancaman warga Tambak Asri khususnya warga RT.17, RW.06, Kelurahan Morokrembangan, Kecamatan Krembangan, Surabaya untuk mengirim
“parsel sampah” urung dilakukan. Karena, permasalahan sampah menggunung yang terjadi di pintu air Bozem Morokrembangan sudah teratasi.
Tumpukan sampah yang awalnya menutupi sungai dan dibiarkan menumpuk selama 2 bulan di dekat pintu air bozem tersebut, Selasa (2/9/2010) pukul 13.00 WIB sudah terlihat bersih dari sebelumnya. Dan air sungai pun sudah mulai terlihat, meski masih berwarna keruh.
Hal ini diungkapkan Daniel Lukas Rorong, Ketua Komunitas Peduli Kremil (KPK) usai meninjau lokasi Bozem Morokrembangan, Selasa (2/9/2010). Selama 2 jam, Daniel bersama perwakilan warga sempat mendatangi pos operator pintu air bozem.
Ditemui Darmuji, mewakili Dinas PU Bina Marga dan Pematusan, Daniel bersama warga menyaksikan sendiri proses penyaringan dan pengangkutan sampah dari pintu air kemudian dipindahkan ke truk pengangkut sampah milik Dinas PU Bina Marga dan Pematusan.
Sambil menjalankan mesin penyaring sampah, Darmuji mengaku, anak buahnya langsung diterjunkan semua. Bahkan, Senin (1/9/2010) malam pun, proyek pembersihan sampah itu dilakukan.
“Kami dapat perintah dari atasan untuk segera membersihkan sampah-sampah yang ada di pintu air ini,” aku Darmuji.
Dan memang benar. Hanya membutuhkan 1X24 jam, sampah-sampah yang sebelumnya menggunung di sekitar pintu air sudah terlihat bersih. Diungkapkan Darmuji, untuk proyek pembersihan sampah kilat ini sampai menerjunkan 8 truk pengangkut sampah. Belum lagi para pekerjanya yang mencapai 20 orang.
Daniel pun mengaku salut atas respon cepat yang dilakukan oleh operator pintu air Bozem Morokrembangan. Padahal sesuai janji penanggungjawab pintu air, sampah-sampah yang menggunung tersebut akan dibersihkan dalam tempo 3 hari ke depan.
“Tapi kenyataannya, tidak sampai 3 hari, janji itu sudah direalisasikan,” ujar Daniel selaku koordinator aksi warga saat unjuk rasa satu hari sebelumnya.
“Ini membuktikan, bahwa sebenarnya, permasalahan sampah yang menumpuk di dekat pintu air tak perlu terjadi. Karena realitanya, hanya butuh 1X24 jam saja, permasalahan itu dapat teratasi,” kata Daniel.
Untuk itu, diungkapkan Daniel, warga pun urung melaksanakan niat mereka untuk mengirim “parsel sampah”. Sedianya, “parsel sampah” yang juga berisikan belatung itu akan dikirimkan pada Lurah Morokrembangan, Dirjen Cipta Karya, Kepala Dinas PU Bina Marga dan Pematusan, juga pada pelaksana tugas (Plt) walikota ke Sekretaris Kota (Sekkota) Soekamto Hadi.
Tak hanya itu, “sampah parsel” itu akan dikirimkan pada Tri Rismaharini dan Bambang DH, jika sampai saat di hari pelantikan Walikota dan Wakil Walikota Surabaya terpilih, Bozem Morokrembangan masih “banjir” sampah.
“Ini sebagai bentuk protes sekaligus kecintaan warga pada Bu Risma yang telah diberikan kepercayaan sehingga beliau bisa menang mutlak di Kecamatan Krembangan, khususnya di Tambak Asri pada saat pemungutan suara ulang Pemilukada Surabaya beberapa waktu lalu,” ungkap Daniel.
Selain tidak jadi mengirim “parsel sampah”, Daniel pun sudah meyakinkan warga agar jangan sampai merusak pos operator dan screen filter sampah. Karena sebelumnya, warga pun sudah akan bertindak tegas dengan cara mereka sendiri dengan merusak dan menjebol pintu air Bozem Morokrembangan.
“Tapi upaya tersebut berhasil kami cegah. Karena aksi anarkhis dengan cara seperti itu bukan menyelesaikan masalah, tapi malah menambah masalah tersendiri,” kata Daniel pada warga yang sudah emosi dan kehabisan kesabaran, mengingat permsalahan “invansi sampah” tersebut sudah berlangsung selama 2 bulan.
Untuk itu, Daniel atas nama warga Tambak Asri mengucapkan terima kasih atas bantuan dan kerjasama semua pihak. Terlebih bantuan dari rekan-rekan media yang sudah mem-blowup permasalahan ini, sehingga permasalahan “invansi sampah” ini dapat teratasi hanya dalam tempo 1X24 jam saja.
“Tanpa pemberitaan dari teman-teman media, keluhan warga Tambak Asri perihal banjir sampah di Bozem Morokrembangan ini tidak mungkin teratasi dengan segera,” ujar Daniel yang juga seorang aktifis sosial ini.
Sumber : Daniel Lukas Rorong










