|
|
Setelah dua kali kritis pada hari ini, maestro keroncong Gesang Martohartono akhirnya tak kuasa melawan komplikasi sejumlah penyakit yang menggerogotinya. Pukul 18.10, Kamis 20 Mei 2010, Gesang menghembuskan nafas terakhir.Gesang meninggal dunia di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah, Solo. Keponakan Gesang, Hasanudin Santoso, mengatakan, kondisi pencipta lagu ‘Bengawan Solo’ itu memburuk sejak siang hari. Gesang mengalami dua kali kritis yaitu pada pukul 14.00 dan 17.30.
Gesang yang dilahirkan 1 Oktober 1917 ini beberapa tahun belakangan ini terlihat semakin dimakan usia. Saat perayaan ulang tahun ke-92 tahun lalu, pendengaran Gesang sudah tidak normal.
Untuk berbicara dengannya harus dengan nada agak keras yang didekatkan dengan telinga beliau. Karena itu, dalam kesehariannya, Gesang mengenakan alat bantu pendengaran.
Pada perayaan ulang tahunnya tersebut, Gesang memperoleh kado istimewa, yakni sebanyak 44 judul lagu ciptaannya yang sudah dipatenkan oleh perusahaan rekaman Penerbit Musik Pertiwi (PMP ke Dirjen HAKI Departemen Hukum dan HAM Republik Indonesia.
Semua sertifikat paten lagu tersebut sudah terbit pada 25 September 2009. Gesang pun mendapat royalti dari Penerbit Musik Pertiwi (PMP) sebesar Rp 32,8 juta.
Lagu-lagu ciptaan Gesang yang cukup terkenal selain Bengawan Solo, antara lain Jembatan Merah, Pandanwangi, Sebelum Aku Mati, Seto Oshahi, dan Sapu Tangan.
Dan hampir semua lagu yang diciptakannya itu mengalir sampai jauh ke manca negara. Lagu berjudul Sapu Tangan pernah akan dijadikan Malaysia sebagai lagu kebangsaan.
Lagu “Bengawan Solo” yang diciptakan Gesang saat berusia 23 tahun telah digubah dalam 13 bahasa. Di Jepang, lagu ini bahkan sudah diangkat ke layar lebar.
Menurut Wikipedia, beberapa tahun ini, Gesang tinggal di di Jalan Bedoyo Nomor 5 Kelurahan Kemlayan, Serengan, Solo bersama keponakan dan keluarganya, setelah sebelumnya tinggal di rumahnya Perumnas Palur pemberian Walikota Surakarta tahun 1984 selama 20 tahun.
Sejak masuk rumah sakit pada awal Januari 2010 ini dan sempat mengalami operasi pengangkatan prostat, Gesang yang tidak memiliki anak itu pun berulang kali dikabarkan meninggal dunia.
Banyak pihak mempertanyakan informasi kebenaran berita tersebut termasuk dari Jepang, China dan Belanda. Sejumlah penggemar Gesang dan media massa di Jepang berkali-kali menghubungi keluarga menanyakan kebenaran informasi tersebut.
“Berkali-kali saya dihubungi para penggemarnya di Jepang, bahkan salah satu stasiun televisi di Jepang menghubungi rumah sakit untuk meminta keterangan benar tidaknya kabar itu,” ujar Yuni Efendy, keponakan Gesang, Rabu 19 Mei 2010.
Tidak hanya itu, para tetangga Gesang di Solo sudah mempersiapkan segala sesuatunya, termasuk prosesi pemakaman. “Jelas ini membuat kami panik, jadi tak karuan. Sampai-sampai tetangga mendatangi kami untuk minta persetujuan akan dimakamkan di mana,” ujar Yani dengan nada penyesalan.
Keponakan Gesang yang lain, Yuniarti, bahkan menyatakan dukungan datang dari seorang direktur rumah sakit di China. Tak hanya itu, perkembangan kesehatan Gesang pun diliput oleh stasiun televisi China pada Minggu, 16 Mei 2010.
“Mereka menyatakan dukungan kepada Mbah Gesang. Karena mereka begitu menggemari Mbah Gesang yang menciptakan lagu Tembok Besar,” kata Yuniarti di Solo, Minggu 16 Mei 2010. Lagu Tembok Besar diciptakan tahun 1963 itu bercerita tentang Tembok Besar China.
Namun semua dukungan dan doa itu pun harus bertemu takdir menjelang malam ini. Gesang telah “mengalir sampai jauh.” (wm)
Laporan Fajar Sodiq | Solo
• VIVAnews










