SiapaBilang-March 10 2010
BAGHDAD – Perdana Menteri (PM) Irak Nuri al- Maliki unggul di
sembilan provinsi dari total 18 provinsi berdasarkan hasil penghitungan sementara pemilihan umum (pemilu) akhir pekan silam.
Aliansi Hukum Negara (SLA) yang dipimpin Maliki mampu meraih dukungan besar di wilayahwilayah Syiah. Sedangkan lawan utama Maliki, Iyad Allawi, memimpin di daerah-daerah Sunni.
Hasil penghitungan sementara ini tidak resmi tapi didapat berdasarkan keterangan para pejabat Irak. Hasil penghitungan akhir yang resmi akan diumumkan paling cepat hingga akhir Maret.
Setelah itu butuh waktu berbulan-bulan bagi semua partai politik untuk membentuk pemerintahan baru. Maliki dipilih sebagai PM Irak pada 2005.
Dia dianggap sebagai kandidat kompromis dan pemerintahannya mendapatkan dukungan dari militer AS. Maliki dianggap mampu mengurangi kerusuhan sektarian Sunni-Syiah yang telah menewaskan puluhan ribu orang.
Tapi,seorang pengamat memperingatkan, walau Maliki unggul dalam pemilu, dia tidak populer di antara partai-partai politik lainnya. Kondisi ini dapat mencegahnya kembali menjadi PM.
“Hubungannya dengan Kurdi yang memainkan peran utama di parlemen, tidak bagus,” papar Hamid Fadel, pengamat politik di Universitas Baghdad. “Aliansi Nasional Irak (INA) menuduh Maliki memusatkan kekuasaan dan Sunni menuduhnya melakukan proses ‘de-Baathifikasi’,” ujar Fadel.
Seperti perkiraan awal, Alawi merupakan lawan utama Maliki. Alawi merupakan kandidat yang mengampanyekan nasionalisme dan non-sektarian. INA merupakan kekuatan oposisi yang didominasi dua partai religius Syiah, Dewan Tertinggi Islam Irak (SIIC), dan gerakan yang setia pada ulama Moqtada al-Sadr yang memimpin perlawanan terhadap tentara koalisi pimpinan AS.
INA juga mengajukan mantan wakil PM Irak Ahmed Chalabi sebagai kandidat PM. Chalabi merupakan pria yang mengungkap kesalahan laporan intelijen tentang senjata pemusnah massal Irak yang menjadi alasan AS menginvasi Irak.
Partisipasi Sunni dalam Pemilu Minggu (7/3) sangat besar. Kondisi ini berbeda dengan Pemilu 2005 saat Sunni memboikot pemilu untuk memprotes naiknya mayoritas Syiah dalam Pemerintahan Irak.
Pejabat komisi pemilihan umum menjelaskan, tingkat partisipasi pemilih mencapai lebih dari 60 persen. Itu artinya, sebagian besar warga Irak tidak terpengaruh oleh ancaman Al Qaeda yang akan membunuh warga yang mengikuti pemilu. Bahkan, tingkat partisipasi pemilih mencapai lebih 70 persen di Arbil, wilayah otonomi Kurdi di bagian utara, dan di Provinsi Kirkuk yang selama ini menjadi pusat perebutan pengaruh antara Arab dan Kurdi.
Warga tetap mendatangi tempat pemungutan suara meski terjadi sejumlah serangan bom dan mortir. Sedikitnya 38 orang tewas dan 110 orang terluka dalam serangan Minggu (7/3).Padahal, pemerintah telah mengerahkan lebih dari 200 ribu tentara dan polisi di Baghdad untuk menjaga keamanan. Selain itu pemerintah masih mengerahkan ratusan ribu aparat keamanan ke penjuru Irak. Tingginya partisipasi pemilih dalam pemilu tersebut diharapkan dapat meningkatkan legitimasi pemerintahan baru nanti.Legitimasi sangat diperlukan karena dari sanalah dapat tercipta kepercayaan publik terhadap institusi pemerintahan.
Jika ada kepercayaan publik terhadap pemerintah, diharapkan stabilitas politik kian meningkat. Sementara itu, Sekretaris Jenderal NATO Anders Fogh Rasmussen memuji pemilu Irak yang berlangsung lancar. Dia menyebut pemilu itu sebagai ”pencapaian krusial” untuk membangun demokrasi sepenuhnya di Negara itu. ”Saya memberi selamat pada pemerintah dan rakyat Irak atas lancarnya pemilu tersebut. Pemilu ini mewakili pencapaian penting pembangunan demokrasi seutuhnya,” ujar Rasmussen kemarin.
Menurut Rasmussen, pemilu Irak akan memberi kontribusi penting dalam proses rekonsiliasi nasional.” Pemilu ini juga membantu kemajuan politik untuk stabilitas Irak,”katanya.
Saat ini NATO tidak menjalankan operasi tempur di Irak. Tapi, mereka memiliki misi pelatihan untuk membantu Irak menciptakan pasukan bersenjata yang efektif hingga akhirnya dapat menjaga keamanan sendiri. Amerika Serikat (AS) yang memimpin pasukan koalisi di Irak saat ini mengubah fokus mereka ke Afghanistan. Washington menganggap kondisi di Irak sudah relatif stabil meski masih terjadi beberapa serangan sporadis. (AFP/Rtr/syarifudin)(Koran SI/Koran SI/rhs)
sumber : okezone.com










