SiapaBilang-Jan 28 2010
PADALARANG,(GM)- Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jabar, Agung S. Sutisno memprediksi dampak pemberlakuan pasar bebas ASEAN-Cina atau ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA) baru akan dirasakan kalangan dunia usaha awal Februari mendatang. Industri tekstil dan produk pertanian yang pertama akan merasakan dampaknya.
“Dampak pasar bebas ASEAN-Cina kita prediksikan mulai terasa awal Februari. Untuk saat ini memang belum terasa, karena pasar bebas baru mulai awal Januari 2010,” kata Agung S. Sutisno di sela-sela pelantikan pengurus Kadin Kab. Bandung Barat periode 2010-2015 di Hotel Mason Pine, Rabu (27/1).Menurutnya, produksi tekstil dan produk pertanian, terutama buah-buahan, yang pertama akan merasakan dampak pasar bebas ASEAN-Cina. Sebagian besar produk Cina yang paling banyak masuk ke Indonesia adalah tekstil dan buah-buahan. Serbuan kedua jenis komoditas ini sekarang sudah terasa.
Agung mengatakan, dari hasil pengamatannya di lapangan, buah-buahan asal Cina tak hanya dijual di supermarket, tapi juga menyerbu pasar tradisional. Buah-buahan seperti jeruk, apel, dan anggur sudah mulai membanjiri Pasar Induk Caringin.
“Buah-buahan yang dijual di Pasar Induk Caringin hampir 50 persen berasal dari Cina. Sebuah angka fantastis yang perlu diwaspadai,” ujarnya.
Sebenarnya, lanjut Agung, produksi buah-buahan asal Cina tak selalu unggul dibandingkan buah-buahan lokal. Hanya saja produk Cina memiliki keunggulan dalam kemasan yang menarik. Sedangkan dari segi rasa, buah-buahan hasil panen petani Indonesia tak kalah bersaing.
Soal harga
Begitu pun dengan produk tekstil dalam negeri, secara kualitas sama dengan buatan Cina. Perbedaan paling mencolok dari sisi harga, karena produk tekstil Cina lebih murah 20%.
“Tak hanya produk tekstil dan hasil pertanian yang harganya lebih murah, tapi hampir di semua produk. Dari sisi harga saja, untuk saat ini pengusaha lokal tak mungkin dapat bersaing. Menurunkan harga sama saja dengan gulung tikar,” tuturnya.
Agung berpendapat, untuk menurunkan harga agar bisa kompetitif dengan produk Cina, tidak bisa hanya timbul dari niat pengusaha. Diperlukan dukungan penuh dari pemerintah berupa perbaikan infrastruktur jalan yang memadai, energi listrik, transportasi, perizinan, dan menghilangkan berbagai bentuk pungli.
“Selama faktor-faktor itu tak bisa diimplementasikan, berat bagi pengusaha untuk menurunkan harga,” katanya.
Lebih jauh Agung mengatakan, hampir 30% industri nasional berada di Jabar, seperti industri otomotif dan tekstil yang mempekerjakan jutaan orang. Pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran akan terjadi di mana-mana.
“Sekarang saja ada perusahaan tekstil asal Bandung dengan pasar impor yang sedang mengurangi jumlah karyawan. Kondisinya bisa semakin parah dengan masuknya produk Cina, bukan malah tambah sehat,” tuturnya. (B.104)**
sumber : klik-galamedia.com










