PALEMBANG - PT Sarana Pembangunan Palembang Jaya (SP2J) pengelola Rumah Susun Sewa (Rusunawa) Kasnariansya tahun 2009 merugi sekitar Rp 200 juta. Kerugian itu disebabkan perbaikan bangunan dan fasilitas serta membayar abonemen listrik dan air bersih.
Direktur SP2J, Ir H Bahder Johan menjelaskan, kerugian itu disebabkan karena kualitas bangunan kurang bagus sehingga beberapa bagian harus diperbaiki. Ditambah lagi membayar beban listrik kepada PLN sebesar Rp 5,8 juta dan air bersih antara Rp 2,5 juta setiap bulannya. “Sepanjang tahun kerugian sekitar Rp 200 jutaan. Sekarang kerugian tersebut sudah dapat ditekan, meski belum begitu besar,” kata Bahder.
Pengelola tidak mungkin menaikan harga sewa dan beban listrik dilimpahkan kepada penghuni karena dalam izin kepada PLN bukan sosial melainkan usaha. Salah satu cara untuk menekan kerugian yang rata-rata belasan juta setiap bulannya, yakni menurunkan beban listrik, mengurangi serta memperketat komponen pengeluaran.
Pengelola akan membuat usaha tambahan seperti mini market yang saat ini menunggu investor berminat untuk menginvestasikan dananya.
Menurutnya, kualitas Rusunawa Kasnariansyah kurang begitu baik dan tidak memenuhi persyaratan sebagai rumah sehat. Beberapa bagian bangunan bocor, pembuangan air rusak, instalasi listrik amburadul dan masih banyak lagi. Sebagai pengelola, SP2J harus melakukan perubahan-perubahan disana-sini agar bangunan menjadi lebih baik.
Luas bangunan lebih kecil, tidak mempunyai tempat jemuran dan standar keselamat kurang.
Ketika ditanya rencana untuk menaikkan harga sewa, sejauh ini belum ada rencana untuk menaikan harga sewa. Namun, terpenting berupaya agar tidak rugi. Saat ini harga sewa antara Rp 100 ribu untuk lantai IV hingga Rp 250 ribu lantai I setiap bulan. Harga tersebut belum termasuk listrik dan air bersih. “Pak wali meminta harga sewa untuk tidak dinaikan sewa. Yang kami lakukan memperketat pengeluaran,” tukas Bahder.
Salah seorang penghuni, Redi mengaku kualitas bangunan rumah susun sewa kurang begitu baik, karena beberapa pembuangan air bocor dan ruangan terlalu sempit. Rata-rata setiap bulan, ia membayar listrik Rp 50.000 untuk 45 khW bisa dipakai minimal satu
bulan, sedangkan beban air bersih sebesar Rp 10.000, ditambah biaya pembakaian. “Penggunaan listrik tergantung pembakaian karena sistem yang digunakan adalah pra bayar (isi ulang). Kalau mau hemat, tidak banyak menggunakan listrik,” kata Redi.










