SiapaBilang-Jan 06 2010
Burj Khalifa Dubai Pecahkan Banyak Rekor- Beberapa tahun terakhir ini Dubai menyedot perhatian dunia dengan berita tentang pulau-pulau buatan, gedung berputar, serta hotel berbintang tujuh. Senin lalu, negara tersebut meresmikan gedung tertinggi di dunia, Burj Dubai yang kemudian namanya diganti menjadi Burj Khalifa.
Burj Khalifa dinyatakan memiliki ketinggian 828 meter, jauh lebih tinggi dibandingkan pemegang rekor sebelumnya, Taipei 101 (yang tingginya 508 meter).
Peresmian itu dilakukan oleh penguasa Dubai Sheikh Mohammed Bin Rashid Al Maktoum. Upacara peresmian, yang dilakukan 1.325 hari setelah pengerjaan itu, dihadiri sekitar 6.000 tamu.
Dalam suatu langkah mengejutkan, Sheikh Mohammed mengganti nama Burj Dubai menjadi Burj Khalifa (dalam bahasa Arab berarti Menara Khalifa), seperti nama presiden Uni Emirat Arab yang juga emir Abu Dhabi, Sheikh Khalifa bin Zayed Al Nahayan.
Sheikh Mohammed menggambarkan menara yang dibangun perusahaan Emaar Properties tersebut sebagai gedung tertinggi yang pernah dibangun oleh tangan manusia. ’’Proyek besar ini pantas membawa nama orang besar. Hari ini, saya meresmikan Burj Khalifa,’’ katanya.
Penggantian nama itu tampaknya sebagai ucapan terima kasih negara tersebut kepada emir Abu Dhabi. Pasalnya, bulan lalu Abu Dhabi memberi Dubai dana 10 miliar dolar untuk membantu negara tersebut melunasi utang-utangnya. Dubai beberapa bulan terakhir ini memang dililit utang besar, sampai-sampai peresmian gedung tertinggi dunia yang sudah direncanakan jauh hari itu juga terancam batal.
Burj Khalifa menjadi rumah bagi 1.044 apartemen mewah, 49 lantai perkantoran dan akhirnya kamar 160-hotel bermerek Armani. Sekitar 12.000 orang diharapkan untuk tinggal dan bekerja di menara, yang merupakan bagian dari pengembangan 500 hektare.
Masjid Tertinggi
Pembangunan gedung pencakar langit itu dimulai tahun 2004, pada puncak pertumbuhan ekonomi Dubai. Menara tersebut dirancang khusus sehingga mampu memecahkan banyak rekor dunia.
Selain ditutup dengan lebih dari 28.000 panel kaca dan bisa dilihat dari jarak 95 kilometer, gedung pencakar langit tersebut memiliki 200 lantai yang 160 di antaranya bisa menjadi tempat hunian. Burj Khalifa juga memiliki ruang lebih dari 500.000 meter persegi untuk kantor dan apartemen.
Selain elevator terpanjang, beberapa fasilitas penting di gedung yang dirancang insinyur Bill Baker tersebut juga merupakan yang tertinggi di dunia. Misalnya, masjid tertinggi sebab berada di lantai 158. Selain itu, ada ruang observasi di lantai 124, dan kolam renang di lantai 76.
Menara itu besarnya dua kali lipat Gedung Empire State di New York, AS. Biaya pembangunan Burj Khalifa mencapai 1,5 miliar dolar dan dikerjakan oleh ribuan orang selama enam tahun.
Rancangan bangunan itu belum pernah ada baik secara teknik maupun logistik sebelumnya. Bukan cuma terkait ketinggiannya, tetapi juga karena Dubai sangat terpengaruh oleh kecepatan angin dan dekat dengan patahan bumi. Wayne Boulton, manajer tim pengelola angin RWDI di Timur Tengah, menjelaskan bagaimana mereka menguji ketahanan menara itu terhadap goncangan angin.
’’Kami membangun sebuah model dengan skala tertentu dan meletakkannya dalam sebuah lorong angin,’’ kata Boulton. ’’Di dalam terowongan ini kami bisa menguji berbagai jenis kecepatan angin dan dari berbagai arah. Kami bisa uji tekanan yang dihasilkan pada permukaan menara di bawah kondisi normal serta dibawah situasi ekstrem.’’
Predikat Paling
Dubai adalah kota dengan predikat paling, di mana semuanya harus merupakan paling besar atau paling bagus. Namun seperti banyak gedung dengan gelar tertinggi lainnya, Burj Dubai direncanakan dan dibangun pada masa keemasan ekonomi, sementara selesai pada saat kejatuhan sektor properti. Gedung Empire State diselesaikan di tengah Depresi Besar AS tahun 1930-an, sementara menara Petronas di Malaysia selesai tahun 1990-an sekitar terjadinya krisis keuangan Asia.
Kenyataan ini membawa orang bertanya-tanya apakah pemecah rekor bangunan tertinggi dunia itu merupakan gajah putih, perumpamaan untuk barang yang nampak mewah dan indah dari luar namun justru menjadi beban besar bagi pemiliknya.
Namun, investor menghadapi kerugian bahkan sebelum menara selesai karena harga properti di Dubai telah merosot di tengah krisis ekonomi global.
Sebagian apartemen yang dijual dengan harga 8.100 dolar AS (sekitar Rp 77 juta) per meter persegi, tetapi sekarang akan kurang dari setengah nilai itu. Para analis mengatakan akan sangat sulit untuk menyewa ruang kantor karena hanya sedikit perusahaan yang bersedia membayar premi untuk kemewahan.
BBC melaporkan pengembang telah menahan proyek-proyek besar baru, sehingga Burj Khalifa bisa menandai akhir sebuah era pencakar langit di Teluk – paling tidak dalam jangka pendek.
sumber :suaramerdeka.com










