SiapaBilang.com-Dec 29 2009
oleh : Nurudin Abdullah
JAKARTA (Bisnis.Com): Prospek bisnis di Jakarta pada 2010 tetap kinclong kendati dibayang-bayangi persaingan ketat dengan masuknya pemodal asing setelah diberlakukannya zona perdagangan bebas Asean (Asean Free Trade Area/AFTA) mulai 1 Januari 2010.
Ekonom Dorodjatun Kuntorojakti mengatakan masuknya pemodal asing dengan sejumlah produknya merupakan tantangan yang cukup berat bagi para pelaku usaha seiring dengan diberlakukannya AFTA dan Asean-China Free Trade Agreement (ACFTA) secara hampir bersamaan.
“Para pelaku bisnis di Jakarta harus berani menyikapi tantangan yang semakin ketat, dan kondisi infrastruktuf kota yang kurang memadai itu sebagai peluang bisnis yang prospektif. Karena bagi pengusaha setiap perubahan ada prospek bisnis yang bisa digarap,” katanya pada acara refleksi akhir tahun 2009 Kamar Dagang dan Industri DKI Jakarta bertema Perekonomian Jakarta 2010, hari ini.
Dia mengatakan kalangan dunia usaha dituntut untuk selalu meningkatkan kapasitas diri dan siap setiap saat menghadapi segala perubahan dan tantangan dalam menjalankan bisnisnya. Pasalnya, di balik itu semua terdapat peluang bisnis yang prospektif.
Sebagai bukti, lanjutnya, banyak pemodal asing yang sudah masuk Indonesia dan khususnya Jakarta untuk menanamkan modalnya pada berbagai sektor a.l. industri perbankan, asuransi, manufaktur, dan jasa transportasi.
“Banyak pengusaha yang mengatakan tantangan bisnis di Jakarta sangat berat, infrastruktur kotanya tidak bagus, lalu lintas jalannya macet, tetapi realitasnya sekarang banyak pemodal asing yang sudah menanamkan modalnya di rumah,” ujarnya.
Menurut Dorodjatun, daya tarik Jakarta hingga banyak investor berdatangan a.l. karena karakteristiknya sebagai kota jasa (service city), pusat keuangan nasional (financial center), pusat pengembangan ilmu pengetahuan (knowledge center), pusat logistik (logistic center) dan pusat modal (capital center).
Kebijakan desentralisasi yang telah dikembangkan di Indonesia, lanjutnya, belumd apat menggesar kedudukan Jakarta sebagai pusatnya perputaran keuangan nasional yang masih mencapai 80% terpusat di DKI, perguruan tinggi dan logistik serta modal juga masih terpusat di Ibu Kota.(yn)










