“Untuk membeli kabel satu orang dikenakan senilai Rp 600 ribu per kepala keluarga (KK), tiang listrik Rp 100 ribu, dan pemasangan KWH meter Rp 3,2 juta. Soalnya sejak listrik masuk desa pada Tahun 2002 sampai kini tegangan arus tidak normal,” kata Sugianto (45) warga RT I Dusun I Suka Cinta, Desa Sukorejo, Senin (28/12).
Dijelaskan, listrik di tempat mereka saat ini tidak dapat digunakan untuk elektronik, dan hanya untuk penerangan lampu saja, karena tegangannya hanya 110 bukan 220. Akibatnya, sebagian warga terpaksa menggunakan travo untuk menambah daya listrik untuk penerangan pada malam hari.
Masuknya penerangan listrik ke Dusun I Suka Cinta, kata Sugianto, karena besarnya minat warga untuk menikmati penerangan listrik, sehingga mereka mau mengeluarkan dana secara swadaya asal rumah bisa terang dan anak-anak mereka bisa belajar pada malam hari
.
Pada awalnya uang yang mereka kumpulkan tersebut untuk membuat tiang listrik cor beton sebanyak 30 unit dengan jarak rentang antar tiang 150 meter. Warga berharap Pemkab Musi Rawas, terutama Dinas Pertambangan dan Energi segera mengganti tiang-tiang listrik cor yang mereka buat sendiri tersebut, karena kondisi tiang listrik buatan warga ini mulai rapuh dan sebagain terancam patah. Warga juga minta PLN menaikkan tegangan listrik ke desa mereka dengan jalan penambahan gardu dan penggantian kabel standar.
Hal senada diutarakan Mawono, Ketua RT I, Dusun I Suka Cinta, Desa Suko Rejo. Menurutnya, sejak falisitas listrik masuk belum ada perhatian dari pemkab setempat untuk memperbaiki fasilitas penunjang listrik di desa mereka. Dari empat dusun yang ada di Desa Suko Rejo, hanya Dusun I yang fasilitas listriknya belum memadai.
“Kalau tiga dusun lainnya tidak ada masalah, cuma di Dusun I saja yang bermasalah. Sejauh ini sudah sering kami laporkan ke petugas desa agar disampaikan ke Pemkab Musi Rawas, tetapi sampai sekarang belum ada tindak lanjutnya,” kata Mawono.
Sementara itu, Ngadi tokoh masyarakat Desa Suko Rejo yang juga anggota DPRD Musi Rawas, saat ditemui mengakui sudah mengetahui keluhan yang disampaikan warga setempat. Selain masalah listrik juga mengadukan buruknya sarana jalan menuju desa itu. Sejak dibangun tahun 1999
dengan menggunakan aspal lapen, hingga kini belum pernah dilakukan peningkatan. Akibatnya 3.000 jiwa yang ada di desa ini setiap hari melewati jalan berlumpur baik untuk mengangkut hasil bumi maupun untuk angkutan umum.










