Monday February 6th 2012

NAD andalkan wisata gerilya

SiapaBilang.com-Dec 27 2009

BANDA ACEH (Bisnis.com): Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam Irwandi Yusuf mengatakan wisata gerilya akan menjadi paket wisata andalan bagi Provinsi NAD ini.

Menurut dia, hal ini karena wisata gerilya unik dan hanya bisa dilakukan di Aceh. Selain itu juga akan memberikan lapangan pekerjaan bagi mantan anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

“Jumlah mantan anggota GAM itu ribuan dan untuk menciptakan lapangan pekerjaan bagi mereka pilihannya adalah wisata gerilya di kawasan yang dahulu digunakan sebagai basis dan markas GAM. Wisata gerilya merupakan hal baru yang unik dan hanya bisa ditemukan di Aceh dan kami akan kembangkan wisata gerilya di lokasi tertentu di Aceh. Meski dunia mengenalnya sebagai bagian dari ekowisata tapi saya menamakannya wisata gerilya,” kata Irwandi ketika menerima rombongan wartawan dari Depbudpar kemarin di Desa Maheung, Aceh Barat, salah satu desa yang dulunya menjadi markas GAM.

Irwandi mengatakan pihaknya sedang membangun kembali pariwisata di seluruh Aceh dengan bantuan konsultan dari UNDP karena Aceh memiliki potensi alam yang banyak.Wisata gerilya yang direkomendasikannya tidak akan merusak alam tapi justru langsung memberdayakan masyarakat.

“Kita tidak perlu membabat hutan untuk menghidupkan perekonomian tetapi tinggal mengemasnya saja� menjadi wisata gerilya semacam napak tilas dan latihan outbound yang tidak kalah menarik dengan wisata berjemur di pantai,” kata Irwandi.

Pihaknya sudah mengungkapkan ide wisata gerilya ini sejak lama, namun peluang itu baru ditangkap oleh Aceh Explorer Adventure Tours yang kini telah mengemas paket wisata tersebut dan banyak diminati wisatawan asing.

“Sayang memang asosiasi industri pariwisata di Aceh masih dalam bentuk embrio, belum berkontribusi untuk pengembangan pariwisata Aceh, namun ada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan yang dapat mengembangkan potensi ekowisata itu,” ujarnya.

Gubernur NAD menegaskan bahwa wisata gerilya tidak sarat muatan politik dan sensitif. Dia juga meminta semua pihak untuk berfikir positif. “Bagi saya tidak sensitif, saya tahu persis anatomi Aceh seperti apa, yang penting positive thinking karena wisata gerilya merupakan sektor yang sangat berperan dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat.”

Dia berpendapat perubahan profesi mantan anggota GAM menjadi pemandu wisata gerilya justru akan membuka lebih banyak lapangan kerja baru di wilayahnya, karena penyediaan lapangan kerja baru di Aceh relatif sulit. “Kepentingan saya adalah bagaimana mereka mendapat pekerjaan dan menjadi pemandu itu mungkin salah satu jalan keluar karena mereka dapat melakukannya dengan baik,” tegasnya.

Lima tahun pascakonflik dan tsunami, Aceh berbenah dalam banyak hal terutama sektor infrastruktur fisik untuk menjadikan Banda Aceh sebagai gerbang Indonesia bagian Barat, termasuk menyiapkan kawasan Sabang sebagai pelabuhan bebas menghadapi tantangan pada 2012.

Selain itu Pulau Sabang juga sedang disiapkan sebagai kawasan oil storage yang akan memasok kapal pengumpan (feeder) dari China, Singapura dan negara-negara lain yang masuk ke wilayah Aceh.

Konsultan Aceh Explorer Adventure Tours Mendel John Pols mengatakan pihaknya optimistis untuk mengembangkan wisata gerilya seperti yang dikembangkan di Vevezuela dan Thailand. Menurut dia, beberapa bekas lokasi markas GAM sangat potensial digarap menjadi wisata jungle tracking yang diminati turis mancanegara.

Dia mengatakan saat ini saja pihaknya sudah melayani sedikitnya 100 wisman untuk melongok beberapa titik seperti di Pucok Kreung Aceh Besar, yang lokasinya hanya sekitar setengah jam dari pusat Kota Banda Aceh. Para mantan anggota GAM mendapat penghasilan sedikitnya Rp 150.000 per orang untuk mengantar tamu melakukan napak tilas di bukit-bukit sekitar Kota Banda Aceh.(er)

Related Tags:

Hi, there..