JAKARTA — 22 DESEMBER: Hasil survei yang dilakukan World Wide Fund for Nature Indonesia tahun 2009 mengungkapkan habitat orangutan di Provinsi Kalimantan Barat semakin terjepit akibat hutan tempat tinggal mereka rusak.
Koordinator Konservasi Spesies WWF-Indonesia Chairul Saleh di Pontianak, Senin, mengatakan terdapat dua subspesies orangutan di Kalbar, yaitu Pongo pygmaeus wurmbii dan Pongo pygmaeus pygmaeus.
“Dari kedua subspesies tersebut Pongo pygmaeus kondisinya lebih mengkhawatirkan dengan populasi yang tersisa sekitar 1.330 hingga 2.000 ekor yang berada di sekitar Taman Nasional Betung Kerihun dan 1.090 ekor di Taman Nasional Danau Sentarum Kabupaten Kapuas Hulu,” katanya.
Menurut hasil studi WWF sekitar 70 persen orangutan di Pulau Kalimantan hidup di luar kawasan lindung. Populasi terbesar terkonsentrasi di hutan dataran rendah yang banyak diarahkan fungsinya untuk areal budidaya atau hutan produksi.
Ia mengatakan, saat ini habitat orangutan terancam di antaranya oleh aktivitas penebangan hutan secara liar, perburuan, kebakaran hutan, fragmentasi habitat, perambahan hutan, dekadensi gambut, penambangan tidak lestari, serta perubahan iklim yang menyebabkan hilangnya sumber pakan dan habitat orangutan karena kekeringan.
Sementara itu, Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Departemen Kehutanan Harry Santoso, mengatakan habitat populasi orangutan juga memiliki sejumlah fungsi ekologis penting, di antaranya pencegahan erosi, pengatur tata guna air, penyangga kehidupan sosial ekonomi masyarakat, serta sumber plasma nutfah penting.
“Kita harus mencegah ancaman kerusakan lingkungan yang lebih besar agar habitat orangutan tidak punah di bumi Kalimantan,” ujarnya.
Salah satu alternatif mengatasi ancaman tersebut yaitu dengan membuat koridor satwa yang menghubungkan dua populasi orangutan yang terdapat di blok hutan TNBK dan TNDS.
“Dengan membuat koridor tersebut kami berharap adanya pergerakan individu yang lebih luas sehingga terjadi pertukaran genetik yang lebih beragam di dalam populasi orangutan,” kata Harry.
Guna memperoleh gambaran kondisi orangutan di Kalbar WWF-Indonesia bekerja sama dengan Balai Besar TNBK dan TNDS tahun 2004-2006. Tahun 2009 WFF-Indonesia kembali menjalin kerja sama dengan empat desa di sepanjang Sungai Labian, Leboyan.
Sementara survei wilayah hutan baik hutan lindung, konsesi perkebunan sawit, dan hutan yang diusulkan sebagai koridor satwa dilaksanakan Juni – Juli 2009.
Koordinator Konservasi Spesies WWF-Indonesia Program Kalbar Albertus Tjiu mengatakan, dari hasil survei tersebut populasi orangutan di wilayah koridor tersebut sekitar 581 ekor.
WWF-Indonesia dalam menyosialisasikan konsep koridor satwa yang menghubungkan dua populasi orangutan yang terdapat di blok hutan TNBK dan TNDS dengan melaksanakan seminar konservasi orangutan disertai pemutaran film dan fameran foto bertema “Keanekaragaman Hayati dan Budaya Kalbar” sejak 19 – 21 Desember di Hotel Grand Mahkota Pontianak.
Kegiatan tersebut diharapkan cara efektif dalam menyampaikan informasi dan meningkatkan kepedulian masyarakat akan konservasi keanekaragaman hayati yang sangat tinggi nilainya di Indonesia khususnya Kalbar, kata Albertus.
Sumber : Republika.co.id










