Friday February 10th 2012

Pasukan Iran Rebut Sumur Minyak Irak

Jakarta, SP

Pekerja Irak sedang bekerja di pengolahan minyak Rumaila, dekat Kota Basra, 550 km tenggara Baghdad, Irak. Pasukan Iran mengambil alih lahan minyak Irak di daerah perbatasan kedua negara, Jumat (18/12).

[NASIRIYAH] Pasukan Iran merebut kendali sebuah sumur minyak di selatan Irak, Jumat (18/12). Juru Bicara Militer Amerika Serikat (AS) mengatakan, sumur minyak itu berada di wilayah perbatasan. Tidak ada kekerasan dalam insiden itu dan persoalan diharapkan bisa selesai melalui diplomasi antara Pemerintah Irak dan Iran.

"Sumur minyak itu berada di wilayah antara perbatasan Iran dan Irak yang selama ini diperdebatkan," katanya. Ia menambahkan, insiden serupa sudah kerap terjadi. Seorang pejabat dari perusahaan minyak South Oil milik Pemerintah Irak di Kota Amara mengatakan, pasukan Iran datang ke lokasi pada Jumat pagi.

"Mereka merebut kendali sumur 4 dan menaikkan bendera Iran, meskipun sumur itu berada di wilayah Irak. Delegasi dari kementerian perminyakan akan berkunjung ke wilayah itu, Sabtu (19/12), untuk menilai situasi," kata dia. Sumur itu terletak di lapangan minyak Fauqa, yang diperkirakan memiliki cadangan minyak 1,55 juta barel.

Sumur itu bagian dari cluster lapangan minyak Irak yang tidak berhasil dijual ke perusahaan minyak besar, Juni. Dewan keamanan nasional Irak, yang terdiri dari menteri dalam negeri, pertahanan, luar negeri, hukum, dan keuangan, Jumat, menggelar rapat darurat dipimpin oleh Perdana Menteri (PM) Nuri al-Maliki.

Juru Bicara Pemerintah Irak Ali al-Dabbagh menyampaikan protes atas insiden itu dan menuntut Teheran menarik pasukannya. "Apa yang terjadi hari ini merupakan pelanggaran atas kedaulatan Irak," ujarnya. Menurutnya, ada 11 tentara Iran yang terlibat dalam insiden di sumur, yang telah dioperasikan oleh Irak sejak 1979.

Menolak Kekerasan

Lebih lanjut, dia mengatakan, Pemerintah Irak menolak penggunaan kekerasan dan sudah melakukan kontak dengan Pemerintah Iran untuk memecahkan persoalan itu secara diplomatik. "Kami kini menunggu jawaban Iran," ucapnya setelah rapat darurat dewan keamanan nasional.

Dabbagh mengatakan, insiden itu terjadi karena persoalan perbatasan, yang terjadi sejak perang Iran-Irak antara 1980-1988. "Irak menolak aktivitas minyak di sektor ini, karena perbatasan belum benar-benar ditentukan. Itulah kenapa kami menyerukan otoritas Iran untuk memecahkan persoalan perbatasan," katanya.

Perwira militer AS Kolonel Peter Newell mengatakan, lapangan minyak itu berada sekitar 500 meter dari tembok perbatasan Iran dan satu kilometer dari tembok perbatasan Irak. Dia menambahkan, lapangan minyak itu, selama ini menjadi bagian dari sisi perbatasan Irak melalui kesepakatan antarkedua negara.

Disebutkan, terdapat lima sumur lain yang juga berada di wilayah yang masih diperdebatkan. "Apa yang terjadi adalah secara periodik, sekitar tiap tiga atau empat bulan, orang-orang dari Kementerian Perminyakan Irak datang ke lokasi untuk memperbaiki sesuatu atau perawatan," ucapnya.

"Mereka akan mengecatnya dengan warna Irak dan menaikkan bendera Irak. Mereka akan tinggal di sana sementara sampai lelah, lalu pergi lagi. Kemudian, Iran datang dan mengganti catnya dengan warna Iran dan menaikkan bendera Iran. Itu terjadi tiga bulan lalu dan mungkin akan terjadi lagi," tambah Newell.

Related Tags:

Hi, there..